Korelasi antara Takwa dan Hidayah
Korelasi antara Takwa dan Hidayah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 4 Dzulhijjah 1447 H H / 21 Mei 2026 M.
Kajian Islam Tentang Korelasi antara Takwa dan Hidayah
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad[47]: 17)
Ayat ini memberikan penjelasan yang sangat jernih mengenai faedah keterikatan yang kuat antara takwa dan petunjuk yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Peningkatan Derajat Hidayah Melalui Ketakwaan
Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala memberikan ulasan yang mendalam mengenai fenomena spiritual ini. Beliau menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba bertakwa kepada Rabb-Nya, kedudukannya akan meningkat kepada tingkatan hidayah berikutnya. Hal ini konsisten berada dalam kondisi bertambah hidayah selama ketakwaannya pun terus bertambah.
Penjelasan tersebut berkaitan erat dengan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di awal surah Al-Baqarah:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 2)
Ayat tersebut secara eksplisit mengaitkan fungsi hidayah Al-Qur’an dengan sifat takwa. Hidayah yang diperoleh oleh orang yang bertakwa bukan sekadar hidayah yang bersifat umum, seperti pengenalan terhadap agama Islam sebagai satu-satunya jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lebih dari itu, ia akan dibimbing untuk memahami rincian dari petunjuk Islam yang akan semakin memperkuat keimanan serta menyempurnakan ketakwaan di dalam hatinya.
Kenyataan ini menunjukkan betapa pentingnya bagi seorang penuntut ilmu untuk mempelajari pemahaman agama secara benar. Aktivitas membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya, serta berusaha memahami kandungan maknanya sesuai dengan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan hal yang sangat utama. Langkah-langkah tersebut menjadi sarana untuk menambah petunjuk di dalam diri yang secara otomatis berimplikasi pada semakin sempurnanya ketakwaan.
Al-Qur’an sebagai Cahaya dan Bimbingan Menuju Jalan yang Lurus
Setiap kali seorang hamba mengikuti petunjuk, ketakwaannya dipastikan akan ikut bertambah. Pertambahan hidayah ini berbanding lurus dengan banyaknya kebaikan yang akan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan peran Al-Qur’an sebagai sumber cahaya melalui firman-Nya:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang memberikan penjelasan. Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 15-16)
Hidayah yang agung ini bersifat selektif dan diberikan kepada hamba-hamba yang memiliki kecenderungan untuk berserah diri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam ayat yang lain mengenai otoritas-Nya dalam memilih penerima petunjuk:
اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
“Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura[42]: 13)
Anugerah hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat bergantung pada sikap inabah seorang hamba, yaitu kondisi di mana ia senantiasa kembali kepada Allah, selalu bertaubat, serta konsisten mendekatkan diri kepada-Nya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa takwa memiliki kaitan yang sangat erat dengan hidayah. Semakin tinggi tingkat ketakwaan dan semakin besar semangat seseorang dalam melakukan kebaikan, maka hidayah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan semakin sempurna.
Prinsip tersebut selaras dengan penegasan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ
“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (QS. Al-A’la[87]: 10)
Rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan bagian utama dari manifestasi takwa. Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa hanya orang-orang yang memiliki rasa takutlah yang mampu mengambil manfaat dan pelajaran dari petunjuk-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas memahami dan mengikuti petunjuk Allah merupakan sebab utama bagi seseorang untuk meraih rasa takut yang menjadi bagian dari ketakwaan.
Keterikatan antara hidayah dan pilar-pilar kebaikan juga digambarkan melalui perpaduan antara petunjuk dan keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanan mereka.” (QS. Yunus[10]: 9)
Ayat ini menggandangkan antara hidayah dengan iman, dimana iman itu sendiri merupakan inti daripada ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rangkaian dalil ini menjelaskan bahwa semakin sempurna manusia memahami hidayah Allah serta berusaha mengamalkannya, maka semakin besar pula porsi ketakwaan yang akan dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada tahap awal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada manusia untuk mengenal iman, yaitu dengan masuk Islam dan menyatakan beriman kepada-Nya. Setelah mereka beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan hidayah lanjutan sebagai bentuk respons atas keimanan tersebut. Fenomena ini disebut sebagai hidayah setelah hidayah, di mana petunjuk tersebut ditambahkan secara lebih rinci agar manusia dapat memahami dan mengamalkan syariat Islam secara mendalam.
Melalui metode penjelasan ini, dapat dipahami bahwa upaya mengamalkan amalan yang disyariatkan dalam Islam, meskipun tergolong kecil, akan menjadi sebab dibukanya pintu kebaikan lain. Langkah kecil tersebut memicu kemudahan untuk mengamalkan amal-amal besar yang pada awalnya terasa berat untuk dilaksanakan. Berdasarkan hukum hidayah yang berlapis ini, setiap ketaatan awal akan mengundang petunjuk berikutnya.
Prinsip ini senada dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah yang lain:
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam[19]: 76)
Meluruskan Kesalahpahaman Mengenai Hakikat Menjemput Hidayah
Adanya dalil-dalil tersebut sekaligus meluruskan kesalahpahaman sebagian orang yang kerap kali berdalih atas nama takdir ketika enggan berbenah. Kelompok ini sering menyatakan bahwa apabila Allah menghendaki, maka Allah akan memberikan hidayah kepadanya, sehingga orang lain tidak perlu ikut campur, menasehati, atau menegur kesalahan yang dilakukannya. Mereka berasumsi bahwa jika Allah menghendaki, maka hati mereka akan terbuka dengan sendirinya untuk menerima petunjuk.
Pernyataan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya serta Maha Kuasa untuk melapangkan hati manusia dalam menerima kebaikan adalah sebuah kebenaran yang mutlak. Namun, manusia di sisi lain juga diperintahkan oleh syariat untuk menetapi, mengikuti, dan menempuh jalan-jalan hidayah tersebut. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Maryam ayat 76, Allah Subhanahu wa Ta’ala menambahkan petunjuk justru kepada orang-orang yang mau mengikuti petunjuk tersebut.
Manusia diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya karena Al-Qur’an merupakan sumber utama dari segala petunjuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa hidayah diturunkan melalui sebab-sebab tertentu. Manusia diwajibkan untuk menempuh sebab-sebab kebaikan tersebut agar dapat meraih akibat baik berupa hidayah. Meskipun Allah ‘Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia tetap memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melakukan berbagai kebajikan yang telah disyariatkan di dalam agama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan setiap hamba untuk membaca Al-Qur’an dan merenungkan seluruh isinya. Perintah untuk melakukan tadabur ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an melalui sebuah pernyataan:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an?” (QS. Muhammad[47]: 24)
Selain berinteraksi dengan Al-Qur’an, umat Islam juga diperintahkan untuk mengikuti seluruh petunjuk yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Peran besar beliau sebagai pembimbing umat dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)
Dua dalil tersebut menunjukkan adanya kewajiban berupa usaha nyata dari seorang hamba untuk meraih hidayah. Melalui ikhtiar yang konsisten tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan semakin memperkuat petunjuk serta memantapkan ketakwaan di dalam diri manusia.
Konsep Al-Furqan sebagai Hadiah Ketakwaan
Hubungan timbal balik antara takwa dan petunjuk merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan janji berupa anugerah istimewa bagi orang-orang yang menjaga ketakwaannya, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu.” (QS. Al-Anfal[8]: 29)
Melalui taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang yang bertakwa akan dianugerahi kemampuan internal untuk membedakan secara jernih antara perkara yang hak dan batil, antara hal yang benar dan salah, serta antara jalan petunjuk dan jalan kesesatan. Semakin banyak kebajikan yang diupayakan oleh seorang hamba, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan penjagaan dan keselamatan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hidayah yang berfungsi menyempurnakan kebaikan tersebut akan tertanam semakin kuat di dalam diri.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa istilah Al-Furqan di dalam ayat ini memiliki dua makna utama. Pertama, Al-Furqan dimaknai sebagai cahaya yang dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam hati orang-orang beriman, sehingga mereka mampu menyaring mana yang benar dan mana yang salah. Kedua, Al-Furqan diartikan sebagai pertolongan (nashr) serta kemuliaan (izzah) dari Allah ‘Azza wa Jalla yang membuat hamba-hamba beriman memiliki kekuatan untuk menegakkan kebenaran sekaligus meruntuhkan kebatilan. Kehadiran kualitas Al-Furqan ini murni menjadi buah dari kesungguhan dalam bertakwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Karakter Hamba yang Mampu Mengambil Pelajaran
Al-Qur’an juga merinci mengenai kriteria hamba yang memiliki kesiapan mental untuk menerima dan mengambil manfaat dari setiap peringatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada-Nya).” (QS. Saba`[34]: 9)
Karakter hamba yang selalu kembali (munib) adalah mereka yang senantiasa bertaubat, rajin berzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, serta menjauhkan diri dari kelalaian. Kelompok inilah yang dinilai mampu memetik pelajaran (ibrah) berharga dari setiap tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala guna meningkatkan keimanan dan menguatkan ketakwaan.
Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menggandangkan penerimaan hidayah ini dengan dua pilar karakter lainnya:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar lagi banyak bersyukur.” (QS. Luqman[31]: 31)
Pernyataan serupa mengenai karakteristik orang yang penyabar dan banyak bersyukur ini juga diulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam tiga surah lainnya, yaitu pada QS. Ibrahim[14]: 5, QS. Saba`[34]: 19, dan QS. Asy-Syura[42]: 33.
Alasan mendasar mengapa hanya orang-orang yang memiliki kesabaran kuat dan kesyukuran tinggi yang disebut mampu mengambil pelajaran karena kedua sifat tersebut merupakan penopang utama dari ketakwaan. Melalui penegasan ayat-ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terhampar luas di alam semesta hanya akan mendatangkan manfaat fungsional bagi mereka yang menghiasi dirinya dengan sifat sabar dan syukur.
Tanpa adanya fondasi sabar saat menghadapi ujian serta rasa syukur saat menerima kelapangan nikmat, kebesaran alam semesta yang disaksikan oleh mata kepala tidak akan pernah mampu menggerakkan hati manusia untuk mencapai derajat takwa yang hakiki.
Kriteria Hamba Penerima Manfaat Ayat Kauniyah dan Quraniyah
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya, baik berupa ayat-ayat keimanan yang terhampar di alam semesta (ayat kauniyah) maupun ayat-ayat Al-Qur’an (ayat quraniyah), hanya dapat diambil manfaatnya oleh orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, serta orang-orang yang senantiasa kembali kepada-Nya. Manfaat ini juga diperuntukkan bagi setiap hamba yang menjadikan seluruh orientasi hidupnya semata-mata untuk mencari keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenyataan ini membuktikan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla tidak dapat direnungkan oleh sembarang orang, melainkan hanya oleh mereka yang memiliki sifat-sifat mulia di dalam jiwanya. Melalui pemahaman ini, dapat ditarik sebuah korelasi bahwa semakin sempurna ketakwaan seseorang, maka semakin sempurna pula hidayah yang akan diperoleh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, semakin konsisten seorang hamba dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan hidayah tersebut, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan ketakwaan di dalam dirinya semakin kuat dan kokoh.
Tanda-tanda kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla ini hanya dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga oleh orang-orang yang memiliki rasa takut kepada-Nya. Prinsip dasar tersebut selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ
“Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha[20]: 1-3)
Rasa takut merupakan bagian paling fundamental dari manifestasi takwa. Berdasarkan penegasan ayat tersebut, Al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya dapat diserap pelajarannya oleh orang-orang yang bertakwa, yang kemudian substansi pelajaran tersebut akan kembali menguatkan ketakwaan sang hamba.
Fungsi Peringatan Hari Kiamat dan Penghalang Hidayah
Pola penerimaan yang selektif ini juga berlaku terhadap peringatan mengenai hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai batasan fungsi peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا
“Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi orang yang takut kepadanya (hari kiamat).” (QS. An-Naziat[79]: 45)
Peringatan tentang hari pembalasan hanya akan berfungsi secara efektif bagi orang-orang yang memiliki rasa takut di dalam hatinya sebagai buah dari ketakwaan. Sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki rasa takut dan kehilangan nilai takwa di dalam jiwanya tidak akan pernah mampu mengambil pelajaran dari peringatan tersebut.
Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman kepada hari kebangkitan, tidak mengharapkan kebaikan di dalamnya, serta tidak memiliki rasa takut terhadap kedatangannya, maka seluruh tanda kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang dipersaksikan di alam semesta maupun ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka baca sama sekali tidak akan memberikan manfaat fungsional. Mereka terhalang dari faedah pelajaran yang diturunkan di dalam Al-Qur’an karena tidak memenuhi syarat utama, yaitu ketiadaan iman dan takwa di dalam hati mereka. Fenomena spiritual ini menuntut adanya perenungan yang benar agar manusia dapat menangkap keagungan serta keindahan isi Al-Qur’an.
Urgensi rasa takut terhadap perkara akhirat juga ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengulas sejarah kelam umat-umat terdahulu. Setelah memaparkan berbagai bentuk hukuman berat serta kehinaan di dunia yang ditimpakan kepada kaum-kaum yang mendustakan para nabi dan rasul ‘Alaihimus Shalatu wassalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat.” (QS. Hud[11]: 103)
Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa segala bentuk siksaan dan pembinasaan yang menimpa para pendusta kebenaran di masa lalu merupakan sebuah ibrah atau pelajaran yang sangat berharga. Namun, nilai edukasi sejarah tersebut kembali dispesifikasikan hanya bagi orang-orang yang memiliki rasa takut di dalam hatinya terhadap ancaman azab neraka pada hari kiamat kelak.
Al-Qur’an banyak memuat kisah tentang orang-orang terdahulu yang mendustakan para rasul serta tidak mempercayai hari kebangkitan. Mereka kemudian ditimpa azab, dihinakan di dunia, dan diancam dengan siksaan yang pedih di akhirat. Alasan utama Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan fenomena sejarah ini kepada orang-orang yang mengimani hari akhir adalah agar mereka dapat mengambil pelajaran (ibrah).
Ketiadaan iman pada umat-umat terdahulu menyebabkan mereka tidak mempersiapkan diri menghadapi hari pembalasan. Oleh karena itu, orang-orang yang beriman dan meyakini dengan seyakin-yakinnya akan adanya hari akhirat, adanya pembalasan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, serta adanya pertanggungjawaban atas segala perbuatan, sudah seharusnya mempersiapkan diri secara maksimal. Sungguh menjadi hal yang kontradiktif apabila seorang hamba yang mengaku yakin terhadap hari esok yang pasti terjadi tersebut, justru tidak melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya. Ada hikmah dan pelajaran besar di balik setiap kisah pembinasaan yang dipaparkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penghalang Pelajaran dan Tipuan Materialisme Alam
Adapun bagi orang-orang yang tidak mengimani hari akhirat serta tidak memiliki rasa takut terhadap azabnya, kisah-kisah pembinasaan tersebut tidak akan pernah menjadi pelajaran ataupun tanda kekuasaan Allah yang dapat direnungkan. Ketika kelompok ini mendengarkan peringatan tentang akhirat dan kengerian azabnya, mereka cenderung berdalih bahwa sejak dahulu kala dalam kehidupan dunia ini akan selalu ada kebaikan dan keburukan, ada kenikmatan dan penderitaan, serta ada kebahagiaan dan kesengsaraan. Mereka memandang perputaran roda kehidupan tersebut berganti dengan sendirinya secara alami tanpa ada Zat yang mengaturnya, seolah-olah semua kejadian itu berlangsung tanpa ada kaitan dengan sebab akibat dari perbuatan manusia.
Bahkan, tidak jarang orang-orang yang tertutup mata hatinya ini mengembalikan fenomena alam dan peristiwa sejarah tersebut kepada sebab-sebab yang bersifat falak atau ilmu perbintangan. Mereka menisbatkan keberuntungan atau kesialan hidup kepada pengaruh bintang tertentu dan tidak menisbatkannya kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perilaku menyimpang ini timbul akibat kejahilan serta kekufuran yang bersarang di dalam dada.
Selain ilmu falak, mereka terkadang mengaitkan segala kejadian alam semesta semata-mata pada kekuatan jiwa, gejala alam, atau kekuatan-kekuatan materi lainnya. Pandangan materialistis ini menjadi bukti nyata atas keadaan orang-orang yang telah kehilangan kemampuan untuk mengambil manfaat dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kesimpulan Hubungan antara Petunjuk dan Ketakwaan
Kesimpulan mendasar dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa semakin dalam seorang hamba mendalami petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan konsisten mengikuti jalur-jalurnya, maka kualitas spiritualnya akan semakin meningkat. Aktivitas membaca sebaik-baik petunjuk di dalam Al-Qur’an serta menelaah hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disertai dengan perenungan mendalam, pengambilan pelajaran, lalu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, akan menjadi sebab utama Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan porsi ketakwaan yang lebih besar serta kesempurnaan iman di dalam diri.
Ulasan ini menjadi pelajaran yang sangat bermanfaat untuk merenungkan bagaimana metode Al-Qur’an ketika menggandengkan antara ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keharusan untuk selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya.
Semoga penjelasan ini dapat diambil pelajaran dan faedahnya, sehingga mampu menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus menumbuhkan semangat yang tinggi untuk terus membaca Al-Qur’an, merenungkan kandungannya, dan memetik hikmah fungsional darinya.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Korelasi antara Takwa dan Hidayah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56274-korelasi-antara-takwa-dan-hidayah/